Let's Explore IT !

Kata mbah Bardolo, IT tidak hanya teknik.. IT tidak hanya sains..
Tetapi IT adalah juga seni, humanisme dan cinta....

Thursday, 18 October 2018

[Python for Machine Learning] Contoh Prediksi Sederhana dengan Simple Regresi Linear

Ada banyak cara melakukan prediksi menggunakan machine learning. Salah satunya yang paling sederhana adalah menggunakan Regresi Linear.

Simple Regresi Linear adalah salah satu metode yang biasa digunakan untuk menguji sejauh mana hubungan sebab akibat antara dua buah variabel. Kedua variabel tersebut sering disebut sebagai variabel faktor penyebab (X) terhadap variabel akibat (Y). Variabel X seringkali disebut sebagai Predictor, sedangkan variabel Y sering kali disebut sebagai Response.

Simple Regresi Linear seringkali dipergunakan untuk melakukan prediksi atau peramalan baik tentang karakteristik baik yang bersifat kualitas maupun yang kuantitas.  Selanjutnya model persamaan Simple Regresi Linear adalah seperti berikut ini :

Y = a + bX
Dimana :
  • Y = variabel akibat atau response yang juga disebut sebagai dependent variable.
  • X = variabel penyebab atau predictor yang juga merupakan independent variable. 
  • a  = konstanta
  • b = koefisien regresi, yaitu besaran response yang ditimbulkan oleh predictor.
Berikut adalah studi kasus sederhana untuk membuat machine learning dengan menerapkan metode Simple Regresi Linear.  Sebuah penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh biaya promosi terhadap pendapatan penjualan sebuah perusahaan.  Simple regresi linear akan digunakan untuk memprediksi nilai penjualan yang akan diperoleh berdasarkan beaya promosi yang dikeluarkan. Disamping itu hasil machine learning juga akan bisa melihat korelasi antara Biaya Promosi  dengan nilai penjualan yang diperoleh. Output lain yang bisa diperoleh adalah grafik korelasinya antara kedua variabel tersebut.

Berikut adalah kode-kode programnya.





Bacaan lengkap tentang topik ini ada di buku Fundamental of Python for Machine Learning, Penerbit Gava Media Yogyakarta, 2018.

Saturday, 8 September 2018

[Python for AI] Instalasi Python Menggunakan Anaconda


Jika Anda akan menggunakan bahasa pemrograman Python, maka Anaconda adalah salah satu paket idola karena di dalamnya sudah berisi berbagai tools untuk melajalankan Python seperti Spyder dan Jupyter Notebook. Sehingga   kita tidak harus menginstalnya secara terpisah-pisah. Anaconda (Anaconda Distribution) dibuat oleh Continuum, dapat digunakan secara gratis, memiliki banyak package dan tool termasuk Python distribution di dalamnya.  Conda memiliki package management system dan environment management system untuk mempermudah pengelolaanya. Distribusi ini dapat beroperasi pada sistem operasi Windows, Linux, OS X dan Windows. Tadinya ini dibuat untuk membuat package untuk Python, sekarang ia bisa melakukan itu untuk software lainnya.

Unduh Installer Anaconda

Instalasi Anaconda bisa dilakukan dengan mengunduh installer-nya terlebih dahulu di website repo continuum (https://repo.continuum.io/archive). Pada repository tersebut Anda bisa memilih versi Anaconda sesuai kebutuhan, tentunya disesuaikan dengan versi Python yang diinginkan. Sebagai contoh yang akan diinstall ini menggunakan Anaconda 3 versi 4.2.0 untuk Windows 64 bit. Gambar di bawah menujukkan installer yang telah berhasil di unduh.


Proses Instalasi

Setelah mengunduh dan mendapatkan master instalasi, berikut adalah langkah-langkah yang harus dilakukan.
  • Double klik installer Anaconda seperti yang ada pada di atas, dan akan muncul tampilan seperti di bawah ini.
  • Klik tombol Next untuk melanjutkan proses dan selanjutnya akan tampil kotak Licence Agreement seperti di bawah ini.
  • Bacalah terlebih dahulu poin-poin yang ada di dalam kotak License Agreement, dan jika Anda setuju, tekan tombol I Agree untuk melanjutkan
  • Kotak dialog yang tampil berikutnya seperti pada gambar di atas adalah kotak pemilihan tipe instalasi. Disarankan pilih default saja atau All User (tipe instalasi untuk semua user dalam komputer). Setelah itu tekan Next dan akan muncul tampilan untuk memilih Destinaton Folder atau folder lokasi instalasi.
  • Anda bisa memilih lokasi instalasi dengan menekan tombol Browse. Tetapi jika tidak ada kebutuhan khusus, disarankan untuk membiarkan pilihan default saja, yaitu melakukan instalasi pada folder Program Files.
  • Setelah memilih folder lokasi instalasi, tekan tombol Next dan akan muncul kotak dialog Advanced Installation Options sebagai berikut.
  • Untuk opsi instalasi di atas, juga disarankan untuk membiarkannya default saja dengan memilih 2 opsi yang disediakan. Selanjutnya klik tombol Install.
  • Proses instalasi berjalan, tunggu sampai selesai prosesnya.
  • Selanjutnya setelah instalasi selesai, Anda bisa mencoba membuka Anaconda Navigator pada start menu windows. 

Jika Navigator terbuka seperti pada gambar di atas, maka instalasi telah berhasil, tetapi  jika tidak perlu di cek apakah proses instalasi sudah dilakukan dengan benar.

Monday, 2 July 2018

[Artificial Intellegence] Meningkatkan Performa Machine Learning dengan Otak-atik Data

Seperti yang sudah sering disebutkan dalam artikel-artikel sebelumnya (baca: AI dan Machine learningFase naik turun Kecerdasan Buatan), saat ini machine learning kembali menjadi idola dalam riset-riset kecerdasan buatan. Apalagi setelah diperkenalkannya deep learning pada tahun 2006 dan diikuti dengan munculnya GPU Server pada tahun 2009. Dalam dunia akademik, machine learning saat ini juga menjadi salah satu topik riset yang diminati baik untuk skripsi, tesis mahasiswa atau bahkan penelitian mandiri yang dilakukan dosen-dosen di bidang TI. Lalu apa yang bisa diteliti dari Machine Learning? Salah satunya adalah tentang bagaimana meningkatkan performa dari suatu metode dalam machine learning. Jasson Brownlee dalam Machine Learning Mastery mencatat bahwa secara garis besar terdapat 4 cara untuk melakukan improve terhadap performa machine learning. Keempat cara tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Peningkatan performa dengan Data.
  2. Peningkatan performa dengan Algoritma
  3. Peningkatan performa dengan Tuning
  4. Peningkatan performa dengan Ensembles.
Selanjutnya tulisan ini akan mencoba membahas terlebih dahulu salah satu strategi peningkatan  performa machine learning dengan mengotak-atik data. Mudah-mudahan ke depan dapat diikuti dengan pembahasan mengenai peningkatan performa dengan algoritma, tuning dan ensembles.

Data adalah "makanan pokok" dari sebuah machine learning.  Jadi machine learning yang canggih pun tidak berarti apa-apa tanpa adanya data. Data merupakan bahan yang digunakan untuk melakukan pembelajaran (training) sehingga mesin dapat mengeluarkan hasil analisis yang benar tentang sesuatu. Sebagai contoh jika kita akan membuat machine learning yang mampu mengenali seekor kucing, maka untuk kebutuhan training perlu disediakan data yang berupa ratusan, ribuan atau bahkan jutaan gambar kucing. Setelah training selesai dilakukan, maka diharapkan mesin dapat mengenali gambar kucing dalam berbagai pose dan bentuk. Lalu bagaimana melakukan strategi peningkatan performa mesin dengan mengotak-atik data? Untuk itu, cobalah berkreasi dengan data Anda. Cobalah memikirkan perpektif baru dan berbeda pada data Anda. Berikut adalah beberapa hal yang bisa dilakukan.

Cari lebih banyak data.

Hal ini penting dilakukan karena metode machine learning modern non-linear seperti deep learning membutuhkan lebih banyak data untuk meningkatkan performanya. Teknik peramalan iklim misalnya, membutuhkan data yang sangat besar bahkan sampai 30 tahun terakhir data iklim harian untuk kebutuhan training dan testing.

Menciptakan alternatif data sendiri

Jika Anda tidak mendapatkan lebih banyak data, maka lakukan generate data untuk menciptakan sendiri data tersebut. Salah satu caranya adalah dengan agumentasi dan permutasi data. Augmentasi merupakan teknik manipulasi data tanpa kehilangan inti atau esensi dari data tersebut. Sebagai contoh jika Anda memerlukan 1000 gambar kucing, tetapi ternyata hanya mendapatkan 700 gambar, maka Anda bisa melakukan rotate, flip atau bahkan crop terhadap gambar-gambar yang sudah ada sehingga kebutuhan akan 1000 gambar tersebut terpenuhi.



Pembersihan Data (Data Cleansing)

Membersihkan data dapat meningkatkan performa machine learning. Pembersihan data yang dimaksud adalah proses mendeteksi data-data yang rusak, tidak lengkap, tidak akurat atau memiliki memiliki format yang tidak sesuai. Data tersebut kemudian dapat dibersihkan dengan cara mengubah, mengoreksi atau bahkan menghapusnya jika perlu.

Resampling Data

Resampling adalah melakukan sampling kembali terhadap data sampel yang sudah dikoleksi sebelumnya. Resampling adalah melakukan sampling terhadap data sampel yang sudah dikoleksi.  Beberapa teknik yang dapat digunakan untuk resampling diantaranya adalah Bootstrap untuk mengevaluasi seberapa baik statistic dapat mengestimasi parameter. Serta Jacknife, yaitu teknik resampling yang digunakan terutama apabila terdapat nilai-nilai pencilan pada data. Pada teknik tersebut, nilai pencilan dikeluarkan satu-persatu lalu sampai akhirnya dilakukan resampling pada data yang tidak memiliki pencilan lagi.

Feature Selection.

Feature selection atau seleksi fitur adalah salah satu metode yang digunakan untuk mengurangi dimensi data, menghilangkan data yang tidak relevan, serta meningkatkan hasil akurasi. Seleksi fitur merupakan cara untuk memberikan hasil yang terbaik pada machine learning. Pekerjaan utama seleksi fitur adalah memilih fitur yang akan digunakan dan mengkombinasikan fitur-fitur tersebut untuk menghasilkan konsep induksi yang benar atau hasil yang sesuai.

Feature Engineering.

Feature engineering atau rekayasa fitur adalah proses menggunakan domain pengetahuan dari data untuk membuat fitur sendiri sehingga algoritma pembelajaran mesin dapat bekerja. Fitur dibuat dari data mentah untuk membantu memfasilitasi proses dalam machine learning. Dalam kalangan ahli komputasi, menyebut bahwa rekayasa fitur adalah seni. Jika rekayasa fitur dilakukan dengan benar, hal itu dapat meningkatkan kekuatan prediksi dari sebuah algoritma machine learning.

Literatur :
  • Machine Learning Mastery, jasson Brownlee
Baca juga :

Tuesday, 10 April 2018

[Just Info] Ini dia 6 Jurnal Ilmiah Bidang TI di Indonesia yang terindeks Scopus 2018


Dalam beberapa tahun terakhir, kalangan akademisi Indonesia tak henti-hentinya membicarakan tentang Scopus. Ada berkomentar positif, ada juga yang negatif. Ada yang kritik konstruktif, ada juga yang sekedar "nyinyir", eh..

Tapi apa boleh buat, terutama untuk kami yang lagi studi ini, Scopus menjadi mutlak diperlukan karena menjadi salah satu syarat kelulusan. Okelah, tentu banyak positifnya dibanding dengan negatifnya. Scopus merupakan mesin pengindeks makalah yang merupakan hasil publikasi kalangan akademis dan peneliti dari berbagai dunia. Indeks Scopus ini didalamnya memuat citation indeks yang menunjukkan sejauh mana paper yang kita publikasikan itu dimanfaatkan oleh orang lain (baca: di sitasi).

Artikel kali ini membahas tentang jurnal ilmiah di bidang Teknologi Informasi di Indonesia yang terindeks Scopus. Tulisan ini sekaligus saya buat sebagai self reminder, dan agar mudah dicari jika sewaktu-waktu diperlukan. Berikut adalah hasil pencarian saya.

1. Internasional  Journal of Technology 
    Publisher: Faculty of Engineering, University   Indonesia
    ISSN: 20869614
    Indexed by Scopus: 2010-ongoing (Q4)
    Terbit 7-8 kali dalam 1 tahun
    http://www.ijtech.eng.ui.ac.id/

2. Internasional Journal on Advance Science, 
    Engineering and Information Tecnology
    ISSN: 20885334
    Indexed by Scopus: 2015-ongoing (Q4)
    Publisher: INSIGHT-Indonesian Scociety
    Terbit 6 kali dalam 1 tahun
    http://ijaseit.insightsociety.org

3. Internasional Journal on Electrical Engineering and Informatic
    ISSN: 20856830
    Indexed by Scopus: 2009-ongoing (Q3)
    Publisher: The School of Electrical Engineering and Informatics, ITB
    Terbit 4 kali dalam 1 tahun
    http://www.ijeei.org

4. Journal of Engineering and Technological Sciences
    ISSN: 23375779
    Indexed by Scopus: 2013-0ngoing (Q3)
    Publisher: Institut Teknologi Bandung (ITB)
   Terbit 6 kali dalam 1 tahun
    http://journals.itb.ac.id/index.php/jets

5. Journal of ICT Research and Applications
    ISSN: 23375787
    Indexed by Scopus: 2013-0ngoing (Q4)
    Publisher: Institut Teknologi Bandung (ITB)
    Terbit 3 kali dalam 1 tahun
    http://journals.itb.ac.id/index.php/jictra

6. Telkomnika
    ISSN: 16936930
    Indexed by Scopus: 2011-ongoing (Q3)
    Publisher : Institute of Advanced Engineering and Science (IAES)
    Terbit setiap bulan.
    http://www.iaesjournal.com/online/index.php/TELKOMNIKA/

Melihat data di atas, ternyata grade tertinggi jurnal-jurnal bidang Teknologi Informasi dari Indonesia baru mencapai Q3. Dan sejauh ini hanya 3 jurnal ilmiah yang mencapai level tersebut yaitu Telkomnika (Universitas Ahmad Dahlan),  IJEEI (ITB), dan JETS (ITB).

Total baru 6 jurnal di atas yang saya temukan. Jika teman-teman memiliki informasi tambahan, bisa dituliskan di kolom komentar, nanti akan kami tambahkan di halaman ini.
Semoga bermanfaat.


Sunday, 1 April 2018

[Fiksi] Programmer Love Story - Prolog

Image: Courtesy from Bukalapak
Tahun 1999 adalah tahun dimana Sheila on 7 meluncurkan album perdana mereka. Group yang awalnya sering main di panggung 17 Agustusan ini  sukses meluncurkan lagu-lagu seperti Tertatih, Kita dan yang paling hits Anugerah terindah yang pernah ku miliki. Dan tahun itu, dibalik kaset itu, di sela syair lagu itu, ada cerita manis, cerita pahit dan cerita misteri. Dan, beginilah ceritanya..

PROLOG

Namaku Jono.
Aku lulusan TI. Kata orang, aku jago buat program komputer. Mungkin karena mereka gak ngerti, bagaimana itu program komputer yang baik. Aku sendiri sih tidak merasa jago. Bahkan rada-rada bego. Kadang-kadang, sih.. hahah

Dan dia, Ine Sundari..
Nama yang cukup singkat, mudah dihafal, enak didengar. Seperti orangnya. Manis, enak diajak bicara, dan satu lagi.. menggemaskan. Paling tidak itu menurutku. Nggak tahu kalau menurut kamu.

Aku mengenalnya ketika aku harus mengajarinya sebuah aplikasi komputer yang aku buat sendiri di perusahaan tempat aku bekerja. Jadi, aku programmer, dia operatornya. Mulanya sih biasa saja, aku senang dengan gaya bicaranya. Lembut dan renyah.. kayak keripik benguk crispy buatan tetanggaku.. hahaha.. Kalau sudah nerocos, gak bisa berhenti. Ada saja bahan pembicaraannya. Jadi nyaman aja ngobrol sama dia. Dan entah mengapa, lama-lama aku tertarik dengan semuanya. Dengan semua yang ada padanya. Dengan segala apa adanya...

Tetapi...
Seperti lagunya Titik Sandora dan Muksin Alatas, ada dinding yang terbentang tinggi di antara kita. Dinding atas nama perbedaan. Dinding atas nama keyakinan. Begitu tingginya, sehingga susah sekali menemukan jendela, ventilasi atau bahkan lubang bekas paku sekalipun.

Kadang aku mau putus asa.. Ya sudah, lepas sajalah.. Tetapi hati kecil berkata lain. Apalagi simbahku pernah bersabda "jangan pernah menyerah sebelum kamu bertanding". Itu katanya pecundang. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Tidak ada perbedaan yang tidak bisa disatukan. Hitam dan Putih adalah dua warna yang berbeda. Tetapi mereka dapat bersatu dan membentuk warna abu-abu. Sebuah warna yang tidak kalah menariknya. Demikian juga air dengan minyak tanah. Perbedaan polaritas menyebabkan keduanya tidak bisa disatukan. Tetapi toh ada air sabun. Kata pak Gino Guru Fisika SMA-ku, air sabun mengandung surfaktan atau emulsifier yang mampu menyatukan minyak tanah dengan air. Menjadi senyawa baru, yang tidak mungkin untuk dipisahkan lagi.

Demikian pula dengan kami. Ada perbedaan mendasar dan sulit untuk disatukan. Tetapi apakah kami tidak mungkin disatukan? Entahlah.. Ketika perbedaan itu masih nyata, tentu akan sangat sulit bagi kami untuk bersatu. Tapi, bukankah ada air sabun yang bisa menyatukan air dan minyak tanah? Meski mungkin saja harus ada pengorbanan.. Ya, pengorbanan, karena ketika air dan minyak itu bersatu, otomatis ada sisi-sisi lain yang pasti berkurang dari keduanya. Dan aku hanya bisa berdoa, kiranya Tuhan memberikan jalan yang terbaik bagi kami berdua.

Dan, beginilah cerita itu dimulai...
Bersambung..

Thursday, 1 March 2018

[Artificial Intellegence] Memaknai Kotak Hitam Machine Learning: Belajar dari "perdebatan" Suhu LeCun dan Rahimi

Ilustrasi kotak hitam yang tidak berwarna hitam (sumber: techcrunch)
Artikel ini sebenarnya sebagian sudah saya tulis pada akhir tahun 2017 yang lalu, ketika masih hangat-hangatnya diskusi LeCun-Rahimi. Tetapi karena mood nge-blog yang sempat tersendat, sehingga baru sempat memberikan finishing touch dan mengunggah, hampir dua bulan setelahnya.

Yann LeCun (Sumber : Udacity.Com)
Menarik memang menyimak diskusi seru (kalau tidak boleh disebut perdebatan) antara sang Maestro  Artificial Intellegence Yann LeCun dengan peneliti Google Ali Rahimi tentang Machine Learning. Kalangan IT, terutama yang mendalami Machine Learning dan AI tentu tidak asing lagi dengan nama Yann LeCun (lihat: WikipediaGoogle Scholar). Ilmuwan yang saat ini menjabat sebagai Director of AI Research di Facebook ini memiliki kontribusi luar biasa pada perkembangan kecerdasan buatan, khususnya pada bidang  machine learning dan computer vision. Salah satu metode terkenal yang dia kembangkan adalah convolutional neural networks (CNN), sehingga dia disebut sebagai founding father dari convolutional nets tersebut.

Ali Rahimi dalam acara NIPS (Sumber: Youtube)
Sedangkan Ali Rahimi (lihat: ResearchGate) adalah peneliti dari Google Research Departement yang memperoleh Test Time Award pada Conference on Neural Information Processing (NIPS) akhir tahun 2017 yang lalu. Diskusi menarik yang kemudian diikuti pembahasan yang meluas dan cukup "viral" di kalangan pecinta kecerdasan buatan (termasuk di beberapa WAG yang saya ikuti) tersebut dipicu dari pernyataan Rahimi ketika memberikan presentasi saat penerimaan Test-of-Time Award yang mengatakannya bahwa “Machine learning has become Alchemy”. Pernyataan ini ternyata tidak bisa diterima oleh sebagian orang, tak terkecuali LeCun.

Dalam presentasinya Rahimi berpendapat bahwa penelitian machine learning dan alchemist keduanya bekerja sampai tingkat tertentu. Ahli alchemist menemukan metalurgi, pembuatan kaca, dan berbagai obat, sementara peneliti Machine Learning berhasil membuat mesin yang bisa mengalahkan kemampuan manusia, seperti mengidentifikasi objek dari gambar, dan mengenali suara secara akurat dan sebagainya. Namun, teori alchemistian yang mempercayai bahwa mereka bisa merubah logam dasar menjadi emas serta membuat kehidupan abadi itu rontok setelah munculnya konsep Fisika dan Kimia modern.
Revolusi Ilmiah akhirnya membongkar kesalahan teori kuno yang sudah bertahan selama hampir 2000 tahun tersebut.

Menurut Rahimi, kesuksesan model machine learning yang sebagian besar didasarkan pada metode empiris, nampaknya memiliki masalah yang sama seperti alchemist. Mekanisme di dalam model pembelajaran mesin sangat kompleks dan gelap sehingga peneliti seringkali tidak mengerti mengapa machine learning dapat menghasilkan output tertentu dari serangkaian data yang dimasukkan. Dengan kata lain, inner mechanism pada machine learning dianalogikan seperti kotak hitam. Menurut Rahimi, kurangnya pemahaman teoritis atau interpretasi teknis model machine learning perlu menjadi perhatian, terutama jika AI bertanggung jawab atas pengambilan keputusan-keputusan kritis seperti bidang kesehatan, dan sebagainya. Dia mengatakan bahwa sistem seharisnya dibangun di atas pengetahuan yang dapat diverifikasi, teliti dan menyeluruh, bukan pada alchemist..

Pernyataan tersebut memicu tanggapan dari Yann LeCun pada keesokan harinya. Lewat akun Facebook pribadinya, ia mengatakan bahwa menganalogikan Machine Learning sebagai alchemist itu adalah salah. LeCun mengatakan bahwa pemahaman tentang teoritis adalah hal yang baik dan hal itu menjadi tujuan kebanyakan ilmuwan. Tetapi hal yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana menemukan metode baru, teknik baru, dan tentu saja, trik baru. Itu yang dilakukan dalam banyak penelitian machine learning. LeCun bahkan menambahkan bahwa dalam sejarah ilmu pengetahuan, artefak-artefak teknik hampir selalu mendahului pemahaman tentang teori. Contohnya, penemuan lensa dan teleskop yang mendahului teori optik, penemuan mesin uap mendahului teori termodinamika, penemuan pesawat yang mendahului teori aerodinamika penerbangan, radio dan komunikasi data yang mendahului teori informasi, dan penemuan komputer yang mendahulua ilmu komputer. Mengapa demukian? Karena para teoritikus akan secara spontan mempelajari fenomena sederhana, dan tidak akan tertarik untuk mempelajari yang kompleks sampai ada kepentingan praktis untuk itu. Di akhir statusnya LeCun menambahkan bahwa sikap skeptis seperti Rahimi adalah alasan utama mengapa komunitas machine learning mengabaikan efektivitas jaringan syaraf tiruan pada tahun 1980-an. Ia khawatir hal tersebut dapat terulang dengan sikap skeptis semacam itu.

Tentang Alchemy

Alchemy adalah ilmu kimia kuno yang bahkan oleh sebagian orang dianggap menyerupai sihir, meski didalamnya berdasar pada pemikiran rasional dari Aristoteles dan Plato. Mereka mengembangkan teori yang menyatakan bahwa semua hal di alam semesta terbuat hanya dari 4 unsur yaitu bumi, udara, api, dan air. Semua hal bisa berubah bentuk dari empat unsur tersebut dengan menerapkan beberapa metode seperti pembakaran, pengeringan, penambahan air, dan pembekuan. Mereka mempercayai bahwa logam bisa di transformasikan menjadi emas (meski pada kenyatannya belum pernah teruji) dan bahkan dipercaya mampu menciptakan keabadian manusia. Seiring dengan munculnya ilmu fisika dan kimia modern pada masa Issac Newton, ilmu alchemy ini mulai ditinggalkan. Lalu mengapa Rahimi menganalogikan Machine Learning seperti Alchemy?

Diskusi Berlanjut

Dan diskusi-pun meluas ke berbagai penjuru dunia. Ada yang nimbrung langsung pada status yang ada di facebook Timeline-nya LeeChun, ada yang membahasnya dalam skala kecil di group-group WA. Salah satu WAG yang saya ikuti adalah INAPR yang berisi teman-teman anggota Indonesian Association for Pattern Recognition. Beberapa teman dalam WAG tersebut mengatakan bahwa pernyataan Rahimi ada benarnya. Disadari maupun tidak, area riset machine learning-deep learning saat ini seolah lebih mementingkan result daripada understanding. Sebagian besar peneliti lebih fokus untuk menggali metode-metode yang menghasilkan result bagus, walaupun metodenya dihasilkan dari sebuah trial error, bukan pemahaman terhadap problem.

Sebagian lagi mendukung pendapat LeChun tentang kebutuhan praktis, terutama jika dikaitkan dengan tuntutan yang harus dipenuhi ketika penelitian bekerjasama dengan dunia industri. Salah seorang anggota WAG menceritakan pengalamannya ketika studi lanjut di Jepang dan ditugaskan oleh kampusnya dalam kolaborasi penelitian dengan sebuah perusahaan komunikasi. Waktu itu penelitian dilakukan rangka membuat facsimile yang mampu membaca tulisan tangan pengguna di Jepang seperti katakana, hiragana, kanji, dan juga roman alphabet. Target yang harus dipenuhi adalah tingkat akurasi yang harus mencapai 99%.  Jadi pekerjaan riset lebih fokus ke parameter-parameter tuning dan optimisasi agar mendapatkan akurasi tinggi dengan model-size yang sekecil mungkin. Itu yang terjadi dalam riset-riset machine learning saat ini.

Di kalangan NIPS, Dr. Yiran Chen, Direktur Pusat Duke of Evolutionary Lab, berusaha menengahi atau menyimpulkan diskusi LeCun-Rahimi ini. Ia mengatakan bahwa LeCun bereaksi berlebihan, karena sebenarnya posisi Rahimi tidak begitu bertentangan. "Yang Rahimi maksudkan adalah bahwa kita sekarang tidak memiliki penjelasan teoritis yang jelas tentang model pembelajaran yang mendalam dan bagian ini perlu diperkuat. Sedangkan LeCun menjelaskan bahwa kurangnya teori yang jelas tidak mempengaruhi kemampuan belajar yang dalam untuk memecahkan suatu masalah. Dan perkembangan teoretis memang bisa saja tertinggal dari praktis.." kata Dr. Chen yang tidak memihak (Sumber: medium.com).

Dan nampaknya ke depan, diskusi-diskusi semacam ini masih akan terus berlanjut. Apakah kita menginginkan model Machine Learning yang lebih efektif tetapi memiliki kekurangan pada clear theoretical explanations, atau model transparan yang lebih sederhana tetapi kurang efektif dalam menyelesaikan masalah-masalah tertentu? Dan tentunya sang waktu, serta perkembangan ilmu pengetahuan akan menjawab itu semua.

REFERENSI:
  1. Ali Rahimi NIPS 2017 Presentation
  2. Yan LeCun take on Ali Rahimi's "Test of Time" award talk at NIPS
  3. The Role of Theory in Deep Learning
  4. Has Machine Learning Become Alchemy?
  5. What is Alchemy?

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India